Beranda | Artikel
Hubungan Nasab dan Amal dalam Pandangan Islam
9 jam lalu

Hubungan Nasab dan Amal dalam Pandangan Islam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 3 Dzulqo’dah 1447 H / 20 April 2026 M.

Kajian Tentang Hubungan Nasab dan Amal dalam Pandangan Islam

Dua Jenis Nasab dalam Kehidupan Manusia

Dalam Islam, ikatan nasab yang mengikat manusia terbagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama adalah nasab sementara. Nasab ini hanya memberikan manfaat selama hidup di dunia, namun tidak lagi berguna di akhirat kelak. Nasab sementara yang dimaksud mencakup hubungan darah, hubungan daging, serta hubungan kekerabatan atau keluarga.

Ketidakberdayaan nasab pada hari kiamat dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 101)

Keterputusan hubungan nasab di hari kiamat digambarkan secara lebih mendalam melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Maka apabila datang suara tiupan yang memekakkan (hari kiamat), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa [80]: 33-37)

Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa saat hari kiamat tiba, seluruh hubungan kekerabatan terputus. Manusia tidak lagi saling mengenali dan justru berusaha melarikan diri dari orang-orang terdekatnya, termasuk saudara kandung, orang tua, istri, hingga anak-anak. Setiap individu akan sibuk dengan urusan masing-masing demi menyelamatkan diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Hubungan nasab duniawi akan menjadi sangat istimewa jika didasari oleh keimanan, yang kemudian disebut sebagai nasab yang kekal.

Pertalian yang didasarkan pada keimanan akan membuat sebuah keluarga dikumpulkan kembali oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka.” (QS. Ath-Thur [52]: 21)

Nasab yang Kekal dan Bermanfaat

Jenis nasab yang kedua adalah nasab yang kekal dan abadi, yang memberikan manfaat kepada pemiliknya di dunia dan di akhirat. Nasab ini berupa keimanan, ketaatan, dan persaudaraan karena Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Pertemanan yang dibangun di atas landasan iman, tanpa embel-embel duniawi lainnya, merupakan nikmat yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا…

“Maka jadilah kamu sekalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran [3]: 103)

Hubungan pertemanan yang akrab di dunia akan berubah menjadi permusuhan di hari kiamat, kecuali bagi mereka yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

Di akhirat, orang-orang yang saling mengajak pada kemaksiatan akan saling menyalahkan dan berselisih. Sebaliknya, orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan kebahagiaan. Pertemanan di atas iman sering kali terasa lebih dekat daripada hubungan kekeluargaan biasa.

Manfaat Teman yang Saleh

Teman yang baik memberikan manfaat dalam empat fase kehidupan: saat hidup, menjelang wafat, saat berada di alam barzakh, dan di akhirat kelak.

  • Saat Hidup: Melihat teman yang saleh dapat meningkatkan semangat ibadah dan motivasi belajar agama saat iman sedang menurun. Sebaliknya, teman yang buruk dapat menyeret seseorang yang awalnya saleh menjadi malas beribadah, bahkan hingga meninggalkan kewajiban seperti menutup aurat atau menghadiri kajian.
  • Menjelang Wafat: Teman yang saleh akan hadir menemani saat sakaratul maut untuk menuntun (mentalqin) kalimat tauhid. 
  • Di Alam Barzakh: Saat seseorang telah meninggal dunia dan berada di alam kubur, teman yang saleh akan senantiasa mendoakan rahmat baginya. Teman yang buruk cenderung melupakan kawannya yang telah wafat karena sibuk dengan kemaksiatan duniawi.

Manfaat Pertemanan Saleh dan Hakikat Keluarga Rasulullah

Teman yang baik di akhirat kelak dapat memberikan manfaat berupa syafaat. Sebaliknya, hubungan pertemanan yang tidak didasari ketakwaan akan berubah menjadi permusuhan yang saling menyalahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

Mereka yang dahulu sangat loyal, sering berkendara bersama, makan bersama, hingga bermaksiat bersama, akan menjadi musuh di akhirat. Oleh karena itu, apabila seseorang memiliki kawan yang saleh, beriman, dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hendaknya ia memegang erat pertemanan tersebut dan tidak meninggalkannya.

Dalam menjalin hubungan, baik pertemanan maupun rumah tangga, setiap individu harus menyadari bahwa manusia pasti memiliki kekurangan. Seseorang yang berharap kawannya sempurna layaknya malaikat tidak akan pernah mendapatkan teman. Hendaknya setiap muslim memaafkan kesalahan saudaranya sebagaimana ia pun ingin kekurangan dirinya dimaklumi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia membenci salah satu perangainya, niscaya ia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Meskipun hadits ini sering dikaitkan dengan hubungan suami istri, Syekh As-Sa’di rahimahullah dalam kitabnya, Al-Wasail Al-Mufidah lil Hayati Sa’idah, membawakannya juga dalam konteks pertemanan. Seseorang harus menerima kelebihan temannya dan mewajari kekurangannya. Di ujung dunia manapun, tidak akan ditemukan sosok yang sempurna.

Persaudaraan antara sesama muslim merupakan ikatan yang kuat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.” (HR. Muslim)

Pertemuan di dalam majelis ilmu dan masjid hendaknya didasari oleh keimanan dan ketaatan, bukan karena kepentingan materi, organisasi, partai, atau bisnis. Dengan ketiadaan embel-embel duniawi tersebut, diharapkan hubungan ini menjadi murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dapat saling memberikan syafaat di akhirat kelak.

Hal yang sangat penting untuk dipahami adalah bahwa keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah semata-mata keluarga yang didasarkan pada pertalian darah dan daging. Keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hakiki adalah mereka yang memiliki kesamaan dalam iman, manhaj, dan ittiba’ (pengikutan).

Maka, orang-orang yang benar-benar dianggap sebagai keluarga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang-orang yang beriman kepada beliau dan mengikuti tuntunannya dengan setia. Hubungan kekeluargaan yang hakiki dalam pandangan syariat didasarkan pada pengikutan terhadap ajaran nabi, bukan semata-mata pertalian darah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai perkataan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam:

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي

“Maka barang siapa mengikutiku, maka sesungguhnya dia termasuk golonganku.” (QS. Ibrahim [14]: 36)

Prinsip ini menegaskan bahwa kedekatan seseorang dengan para nabi ditentukan oleh sejauh mana ia mengikuti tuntunan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperjelas hal ini dalam ayat lain:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ

“Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya.” (QS. Ali Imran [3]: 68)

Ayat tersebut merupakan bantahan terhadap klaim kaum Yahudi dan Nasrani yang masing-masing mengaku sebagai golongan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyanggah pengakuan mereka melalui firman-Nya:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif (lurus) lagi muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran [3]: 67)

Orang-orang yang paling layak dan paling dekat dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam adalah mereka yang benar-benar mengikuti ajarannya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang beriman. Pengakuan tanpa bukti nyata tidak dapat diterima di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Pelajaran penting dari sejarah ini adalah bahwa pengakuan sebagai pengikut sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atau disebut sebagai Ahlus Sunah harus dibuktikan dengan ketaatan penuh (ittiba’). Seseorang tidak dianggap mengikuti sunah jika ia justru melakukan bidah (perkara baru dalam agama).

Para sahabat telah memberikan tuntunan mengenai pentingnya mengikuti jalan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

“Ikutilah (sunah) dan janganlah melakukan bidah, karena sesungguhnya (tuntunan) itu telah cukup bagi kalian.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi)

Selain itu, terdapat pula kaidah dari para sahabat bahwa setiap ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka hendaknya tidak dilakukan. Hal ini dikarenakan para sahabat adalah generasi yang paling memahami cara berittiba’ kepada beliau.

Satu-satunya jalan agar diakui oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan mengikuti tuntunan beliau. Dalam berittiba’, terdapat dua keistimewaan besar yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Melalui ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyampaikan kepada seluruh manusia bahwa bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan mengikuti beliau. Sebagai imbalannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan cinta-Nya serta ampunan atas segala dosa.

Para ulama menyebut ayat ini sebagai Ayatul Mihnah atau ayat ujian. Ayat ini menguji kejujuran seseorang yang mengklaim mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. 

Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam

Kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memberikan pelajaran penting mengenai batasan hubungan kekeluargaan dalam syariat. Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam untuk mempersiapkan bahtera menjelang datangnya banjir besar. Dalam peristiwa ini, terlihat bahwa hewan-hewan justru patuh saat diperintahkan masuk ke dalam bahtera. Hal ini menunjukkan bahwa insting (gharizah) hewan yang lurus terkadang lebih baik daripada akal manusia yang sakit. Manusia yang telah didakwahi selama 950 tahun justru banyak yang membangkang, termasuk putra Nabi Nuh ‘Alaihis Salam sendiri.

Meskipun secara biologis ia adalah putra Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa putranya tersebut telah kafir. Kekafiran adalah amalan yang tidak saleh, sehingga ia tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dalam konteks keselamatan akhirat. Hakikat keluarga seorang Nabi adalah orang-orang yang beriman kepadanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengingkari hubungan biologis antara ayah dan anak tersebut, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa hubungan tersebut terputus karena perbedaan akidah. Dialog antara Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Hud menggambarkan hal ini:

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـئَــلْنِ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنِّيْۤ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ

“Dan Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku adalah bagian dari keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.’ Allah berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” (QS. Hud [11]: 45-46)

Setelah mendapatkan teguran dan penjelasan dari Allah ‘Azza wa Jalla, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam segera berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari memohon sesuatu yang tidak beliau ketahui hakikatnya. Beliau menyadari bahwa tanpa ampunan dan rahmat-Nya, manusia akan termasuk golongan orang-orang yang rugi.

Hubungan nasab duniawi tidak dapat menyelamatkan seseorang jika ia tidak memiliki iman. Kekafiran memutus pertalian nasab yang paling dekat sekalipun. Oleh karena itu, pesan terpenting bagi putra dan putri kita adalah menjaga iman dan Islam hingga akhir hayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran [3]: 102)

Mahalnya Nilai Iman dan Keutamaan Nasab yang Bermanfaat

Nilai iman sangatlah mahal dibandingkan dengan dunia beserta isinya. Harta sebanyak apapun tidak akan ada artinya jika seseorang mati dalam keadaan kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai betapa tidak berartinya tebusan harta bagi mereka yang mengingkari iman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوْ افْتَدَى بِهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.” (QS. Ali Imran [3]: 91)

Jika emas sebanyak lima gram saja sudah sangat membahagiakan dan bernilai di dunia, maka bayangkan perbandingannya dengan emas sepenuh bumi. Segala kekayaan tersebut tetap tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai tebusan azab di akhirat. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa iman adalah kekayaan yang paling berharga.

Membangun Persaudaraan di Atas Keimanan

Setiap muslim hendaknya bersemangat dalam menjaga nasab yang bermanfaat di dunia dan akhirat, yaitu nasab keimanan dan persaudaraan karena Allah (ukhuwah fillah). Carilah kawan-kawan yang saleh dan hindarilah mencari musuh. Memiliki seribu kawan masih terasa kurang, sementara memiliki satu musuh saja sudah sangat memberatkan.

Dalam pertemanan, sifat sombong harus dijauhkan. Jika bertemu dengan kawan atau guru yang telah mengajarkan ilmu, janganlah berpaling atau pura-pura tidak tahu. Tampakkanlah wajah yang ramah dan penuh senyum, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu didepan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Rezeki tidak selalu dinilai dengan harta semata. Hubungan yang baik dengan kawan yang saleh dapat memberikan kebahagiaan yang melebihi segalanya. Oleh karena itu, janganlah menghabiskan seluruh waktu hanya untuk bekerja mencari harta hingga menyendiri dan kehilangan kawan.

Melakukan aktivitas hobi bersama kawan seperti mendaki gunung, bersepeda, atau berkendara motor diperbolehkan selama hukumnya mubah. Namun, aktivitas tersebut harus tetap memiliki batas waktu agar tidak melalaikan kewajiban utama untuk mengaji dan belajar ilmu agama. Pilihlah hobi yang memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat.

Himbauan agar Tidak Berbangga pada Nasab Duniawi

Seseorang tidak boleh hanya berpegang teguh dan berbangga pada nasab darah, daging, atau garis keturunan tertentu seperti keturunan ningrat, pejabat, maupun orang kaya. Segala kemuliaan duniawi tersebut tidak akan memberikan manfaat di hari kiamat jika tidak disertai dengan iman.

Manfaat sejati dari memiliki kawan yang saleh akan terasa di saat-saat paling sulit. Saat seseorang menghadapi sakaratul maut, kawan yang saleh akan datang menemani dan mendoakan. Begitu pula saat dimakamkan, kehadiran kaum mukminin yang menyalatkan memberikan keutamaan besar. Segala doa dan persaudaraan yang didasari iman inilah yang menjadi nasab yang kekal, sementara kebanggaan terhadap silsilah duniawi tanpa amal shalih akan terputus dan tidak bermanfaat di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Hakikat Nasab dan Amal dalam Timbangan Syariat

Terdapat tiga dalil kuat yang memberikan penegasan tentang kedudukan nasab dalam Islam, yakni dua dari Al-Qur’an dan satu dari hadits. Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa pertalian darah tidak memberikan pembelaan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala jika tidak disertai dengan amal shalih.

1. Keterputusan Manfaat Kerabat di Hari Kiamat

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hubungan kekerabatan akan terpisah saat hari pembalasan tiba. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ ۚ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Kaum kerabatmu dan anak-anakmu tidak akan bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 3)

Ayat ini menjelaskan bahwa kerabat dan anak-anak tidak memberikan manfaat sedikit pun di hari kiamat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memisahkan mereka berdasarkan amalnya masing-masing.

2. Perumpamaan Istri Nabi yang Berkhianat

Nasab yang mulia, bahkan hubungan pernikahan dengan seorang nabi sekalipun, tidak dapat menghalangi azab Allah Subhanahu wa Ta’ala jika seseorang melakukan pengkhianatan terhadap iman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah tanggung jawab dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya, maka kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (azab) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), ‘Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (QS. At-Tahrim [66]: 10)

Meskipun mereka adalah istri dari nabi yang mulia, hubungan tersebut tidak bermanfaat ketika mereka memilih jalan kekafiran.

3. Peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Kerabat

Ketika turun perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberi peringatan kepada kerabat terdekat, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam segera berdiri di Bukit Safa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 214)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian berseru kepada kaum Quraisy, Bani Abdil Muthalib, hingga kepada paman beliau, Abbas bin Abdul Muthalib, dan bibi beliau, Shafiyah. Beliau menegaskan tidak dapat melindungi mereka sedikit pun dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan kepada putri tercinta beliau, Fatimah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

“Wahai orang-orang Quraisy, atau ucapan yang serupa dengannya, belilah diri kalian dari Allah. Saya tidak mampu menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Bani Abd Manaf, saya tidak mampu menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib, saya tidak mampu menolong kamu sedikit pun dari Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, saya tidak mampu menolong kamu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan dari hartaku, tetapi saya tidak mampu menolong kamu sedikit pun dari Allah (di hari kiamat kelak jika engkau tidak beriman).” (HR. Bukhari)

Kesimpulan: Keutamaan Amal di Atas Nasab

Seluruh dalil di atas membawa pada satu faedah besar bahwa barangsiapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya menuju surga. Nasab tidak memiliki manfaat jika amal yang dikerjakan bukan merupakan amal shalih. Kemuliaan leluhur atau orang tua tidak dapat menolong seseorang jika ia tidak beramal dengan sungguh-sungguh.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing dalam ketaatan, menguatkan untuk mengamalkan perintah-Nya, serta memberikan kemampuan untuk meninggalkan segala larangan-Nya.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Keutamaan Amal di Atas Nasab” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56175-hubungan-nasab-dan-amal-dalam-pandangan-islam/